Sekdis Pariwisata Lembata Kunjungi Desa Kolontobo dalam Rangka Sosialisasi Desa Wisata -->

Sekdis Pariwisata Lembata Kunjungi Desa Kolontobo dalam Rangka Sosialisasi Desa Wisata

16 June 2022, June 16, 2022

 



Lembata, zonamerdeka.com - Sekretaris Dinas Pariswisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Lembata, Antonius Buga Lianurat, ST, MM mengunjungi Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape dalam rangka sosialisasi Desa Wisata, Kamis (16/06/2022).


Dalam diskusi bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Kolontobo di tepi pantai Ohe, Desa Kolontobo, Tony panggilan akrab Sekretaris Disparekraf menjelaskan desa Kolontobo selama ini belum masuk kategori desa wisata.


Untuk itu, pihaknya tengah menggagas Reli Wisata Bahari Pesona Empat Teluk di antaranya Teluk Balauring, Teluk Waienga dan Teluk Lewoleba yang mana untuk Teluk Lewoleba pada tahun 2023 mendatang akan ada Ekspresi Budaya Awololong dan sekitarnya. Desa Kolontobo adalah salah satu lokasi dari dua lokasi lainnya, yakni desa Dulitukan dan Kelurahan Lewoleba Utara yang ditunjuk Pemda Lembata untuk menujang ekspresi budaya tersebut.


Antonius Buga Lianurat, ST, MM.,
Sekretaris Dinas Pariswisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Lembata, 


Tony menambahkan kegiatan di teluk Lewoleba pada tahun 2023 akan dikoneksikan dengan kabupaten Alor dan kabupaten Flores Timur dan isu strategis yang didorong adalah Muro (konservasi laut berbasis budaya) dan tenun ikat.


"Nanti dari Alor, Lembata dan Flores Timur akan bawa datang (hasil tenun). Jadi, kalau Kolontobo jadi tuan rumah, pasti akan rame sekali dan pasti banyak orang yang datang", beber Tony.


Tony menyampaikan Disparekraf telah menggali dan menyusun potensi desa Kolontobo dalam pra road map dan akan ada tim 3 orang dari Universitas Udaya dan Sekolah Tinggi Nusa Dua akan mengkaji potensi pariwisata di kabupaten Lembata, salah satunya desa Kolontobo untuk melengkapi pra road map Disparekraf.


Untuk itu, Tony meminta agar bukan hanya lokasi Pantai Ohe di desa tersebut saja yang dilirik menjadi lokasi wisata tetapi seluruh keutuhan hidup masyarakat setempat yang berpotensi menjadi daya tarik wisata. Konsep desa wisata itu kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan akhir dari proses. 


"Bagaimana masyarakat berpartisipasi. Saya ambil contoh, mama bisa anyam, bisa tenun juga. Komponen-komponen ini yang diberikan kesempatan. Jadi Bapa Desa mungkin melalui dana desa, kami dari kabupaten. Ini diberi dukungan", pinta Tony.


Sementara itu, direktur LSM Barakat sebagai penggagas Muro, Benediktus Bedil yang diundang hadir dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa pemanasan global menyebabkan perubahan iklim sehingga Muro menjadi penting dikelolah oleh masyarakat adat. 


"Banyak yang memandang Muro ini sebagai bentuk mitigasi terhadap perubahaan iklim karena menyangga tiga spesiel perikanan yang berkelanjutan yaitu manggrove yang bisa merubah karbondioksida dan monoksida menjadi O² (Oksigen). Lalu, Lamun (rumput laut). Luas Lamun seluas lapangan bola kaki itu mampu menyumbangkan Oksigen sebanyak 100.000 kg, dan terumbu karang", jelas Benediktus Bedil.


Karena itu, Benediktus menambahkan bahwa pihaknya akan mendirikan koperasi Muro yang akan mendatangkan rumah ikan dan _pathway_ di hutan mangrove berbahan lokal untuk mendukung pariwisata berbasis budaya.


Kepala Desa Kolontobo  Lambertus Nuho dalam sambutannya mengucapkan limpah terima kasih kepada kehadiran Dinas Parekraf untuk memberi peneguhan dan dukungan untuk membangun desa ini ke arah yang lebih baik.


Hadir bersama Sekdis Parekraf Kabupaten dalam kunjungan tersebut yakni, Daniel Soge, Staf di bidang Ekonomi Kreatif, Marsela Sili Krova, staf bagian Umum Kepegawaian, dan Gaudensia Florida Raya, Staf bagian Destinasi dan Industri Pariwisata.



Kornelis

TerPopuler

close