KENDAL-zonamerdeka.com- Tanggapi fenomena munculnya konten konten YouTube tentang sulap, sihir dan hikmah beberapa waktu terakhir ini, mendorong Lesbumi NU Kendal mengadakan diskusi bersama dan mengupas perbedaannya.
Diskusi dikemas dalam rutinan SEMASA#4 (Selapanan Malam Sabtu) yang digelar di Gema Cafe Kendal, Jawa Tengah pada Jumat (16/9) lalu, dihadiri beberapa komunitas seniman di Kendal, Ansor Banser Kendal, Ketua PC Rijalul Ansor Kendal, Gus Muhammad Ilyas, anggota Lesbumi, santri, budayawan dan masyarakat umum dari berbagai kalangan. Dengan menghadirkan narasumber Ketua PC Lesbumi NU Kabupaten Kendal Muslihin, Pengurus MWC NU Weleri Kiai Farikhin, Ketua GP Ansor Kendal Gus Misbahul Munir, serta moderator Sofyan Hadi, (Aktor dan Sastrawan Kendal).
Ketua PC Lesbumi Kendal, Muslihin memaparkan, diskusi SEMASA#4 untuk memberikan sebuah konsepsi dan identifikasi terhadap perbedaan sulap, sihir dan hikmah yang beberapa waktu terakhir berseliweran di kanal YouTube.
Menurut Muslihin, dalam tayangan-tayangan YouTube itu, ada beberapa orang yang mengaku berprofesi sebagai sulap, ahli sihir dan mengaku memiliki ilmu hikmah. Dalam perspektif dunia Islam meskipun dasar perbuatannya berasal dari Al Quran, jika didasari niatan baik maka itu yang membantu adalah Malaikat, namun sebaliknya jika untuk melukai dan melemahkan orang lain, maka yang membantu adalah iblis, jin atau setan.
"Diskusi Ini untuk memberikan sebuah konsepsi dan identifikasi perbedaan sulap, sihir maupun ilmu hikmah. Maka jangan sampai keberadaan konten konten itu, jadi mengerdilkan dan mendegradasi sosok kiai yang tak jarang mempunyai ilmu hikmah," ujar Kang Muslihin akrab dipanggil.
Lelaki paruh baya berjanggut itu mengakui, memang bahwa keberadaan dan esensi sihir itu ada. Namun oleh pihak-pihak tertentu, itu dianggap tidak bisa atau sulit dibedakan.
Oleh karenanya, Kang Muslihin meminta masyarakat jangan terjebak pada apa yang sudah tersedia dalam konten-konten tersebut. Karena secara tidak langsung konten itu akan mempengaruhi pemikiran-pemikiran masyarakat luas pada umumnya dan anak muda generasi penerus bangsa.
"Sebetulnya dalam kalangan pesantren, Islam tradisional dan masyarakat Nahdiyin, hal semacam ini sudah selesai," beber Kang Muslihin serasa tersenyum.
Dalam diskusi dan dialog interaktif SEMASA #4, juga ditampilkan grup musik pop rock sampai rebana dari beberapa komunitas di Kendal, tidak ketinggalan pula baca puisi dan juga diskusi bersama perihal sulap, sihir dan ilmu hikmah.
Senada, Ketua GP Ansor Kendal, Gus Misbahul Munir menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan SEMASA#4 tersebut.
Menurutnya, masyarakat harus pandai dan cerdas untuk memilah, mana konten YouTube yang baik dan yang sebaliknya. Yakni mengajak pada perpecahan atau permusuhan.
Mengenai sulap, sihir dan ilmu hikmah yang mana beberapa waktu terakhir sempat ramai, Gus Misbah menyebutkan bahwa itu ada, dan menjadi khazanah keilmuan.
Dia mencontohkan, keilmuan atau mukjizat Nabi Musa as, yang diberikan Allah SWT berupa tongkat yang bisa menaklukan ular. Begitu juga dikalangan masyarakat pesantren ilmu hikmah itu ada dan bisa dipelajari. Namun tidak semua santri boleh mempelajari, karena hanya diberikan kepada santri khusus saja.
Sebagai keturunan Suku Jawa, Gus Misbah mengatakan biasanya kalau ada orang pintar yang ada di Jawa, itu selalu identik disebut dukun dan memiliki ilmu sihir.
"Padahal sebenarnya tidak demikian, mungkin itu terkait dengan kebudayaan Jawa saja. Orang lebih gampang menyebut dukun, padahal bisa jadi itu ilmu hikmah yang bersumber dari Al Qur'an," jelas pria berambut gondrong dan berkumis itu.
Kendati demikian, Gus Misbah melihat dari sudut kacamata kebudayaan dan kepercayaan orang Jawa, itu harus dipertahankan. Dia menegaskan bahwa "Orang Jawa jangan sampai lupa dengan Jawanya".
"Karena sepertinya ada upaya-upaya untuk menghancurkan dan mendegradasi itu semua," tegasnya.
Gus Misbah menambahkan, bahwa Ilmu Hikmah adalah Ilmu yang bersumber dari Al Qur'an yang dipelajari dengan cara Riyadhoh dan latihan spiritual. Sehingga orang-orang yang mempelajari ilmu ini tidak hanya mengandalkan otak, tapi rasa dan kebersihan hati.
Dijelaskannya, orang yang sudah mencapai ilmu hikmah biasanya tidak banyak omong, bahkan cenderung menyembunyikan kebiasaannya supaya terhindar dari kesombongan. Dan ketika seseorang sudah menguasai ilmu hikmah, dirinya mampu menjalani hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Karena bisa jadi penderitaan dalam kacamata awam, itu dirasa sebagai kebahagiaan baginya.
"Disaat orang awam bahagia dengan bergelimang dan banyak harta, orang yang mencapai Hikmah mampu hidup bahagia tanpa kemewahan dunia," tandas Gus Misbah.(ROZIM)

